Minggu, 06 Februari 2022

Mengenal Jenis - jenis Anak : "Jangan Sembarang Mengatakan Anak Kita Kurang"

Gambar dari halodoc.com
S
abtu, 5 Februari 2022 saya bersama teman saya sedang nongkrong di angkringan. Kami berdua sudah janjian beberapa waktu sebelumnya untuk bertemu. Sambil menikmati jahe susu dan gorengan yang ada kamipun ngobrol tentang dunia anak. Kebetulan kami berdua sama - sama memiliki anak yang usianya tidak jauh berbeda yaitu hampir 5 tahun. 

Sayapun penasaran kenapa tiba - tiba membahas anak padahal selama ini ketika bertemu tidak pernah membahas masalah keluarga. Rupanya ada yang mengganggu pikirannya. Anaknya di katakan kurang oleh mertuanya.  Bahkan dikatakan ABK tanpa dasar yang jelas. 


Teman saya ini tidak banyak menjawab karena memang yang merawat anaknya dari kecil memang mertuanya. Kesibukan kerja membuat dia kurang mengenal anaknya. Namun, aku mencoba menenangkannya. Tidak boleh kita sembarang mengatakan anak kita ABK harus ada dasar yang jelas. Perlu kajian dari sisi kesehatan dan psikologis. Konsultasikan ke dokter atau psikolog. Tapi sebelum ke sana kamu harus tau jenis - jenis anak dalam kehidupan ini. Berikut Jenis - jenis anak dan pengertiannya :


1. Anak adalah seorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk yang masih dalam kandungan. 

2. Anak Berkebutuhan Khusus adalah anak yang mengalami keterbatasan/keluarbiasaan baik fisik, mental - intelektual, sosial, maupun emosional yang berpengaruh secara signifikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangannya dibandingkan dengan anak - anak lain seusianya.

3. Anak Penyandang Disabilitas adalah anak yang memiliki keterbatasan fisik, mental, intelektual atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dan sikap masyarakatnya dapat hambatan yang menyulitkan untuk berpartisipasi penuh dan efektif berdasarkan kesamaan hak.

4. Anak Tunanetra, adalah anak yang mengalami gangguan daya penglihatan berupa kebutaan menyeluruh atau sebagian. 

5. Anak Tunarungu, adalah anak yang mengalami gangguan pendengaran baik sebagian ataupun menyeluruh dan biasanya memiliki hambatan dalam berbahasa dan berbicara. 

6. Anak Tunagrahita, adalah anak yang memiliki intelegensi yang signifikan berada di bawah rata- rata anak seusianya dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa perkembangan.

7. Anak Tunadaksa, adalah anak yang secara umum memiliki ketidakmampuan tubuh secara fisik untuk menjalankan fungsi tubuh seperti dalam keadaan normal.


8. Anak Tunalaras, adalah anak yang memiliki masalah hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial serta menyimpang.

9. Anak dengan Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) atau Attention Deficit and Hyperactivity Disorder (ADHD), adalah anak yang mengalami gangguan perkembangan dan neurologis yang ditandai dengan sekumpulan masalah berupa ganguan pengendalian diri, masalah rentang atensi, hiperaktivitas, dan implusivitas yang menyebabkan kesulitan berperilaku, berpikir dan mengendalikan emosi. 

10. Anak dengan Gangguan Spektrum Autisma atau Autism Spectrum  Disorders adalah anak yang mengalami ganguan dalam tiga area dengan tingkatan yang berbeda - beda, yaitu kemampuan berkomunikasi dan interaksi sosial serta pola - pola perilaku yang repetitif dan stereotip.

11. Anak Tunaganda, adalah anak yang memiliki dua atau lebih gangguan sehingga diperlukan pendampingan, pelayanan pendidikan khusus dan alat bantu belajar yang khusus.

12. Anak Lamban Belajar (slow learner), adalah anak yang memiliki potensial intelektual sedikit di bawah rata - rata tetapi belum termasuk gangguan mental. Mereka butuh waktu lama dan berulang - ulang untuk dapat menyelesaikan tugas - tugas akademik maupun non akademik.

13. Anak dengan kesulitan belajar khusus (specific learning disabilities), adalah anak yang mengalami hambatan/penyimpangan pada satu atau lebih proses psikologis dasar, berupa ketidakmampuan mendengar, berpikir, berbicara, membaca, menulis, mengeja, dan berhitung. 
      
14. Anak dengan gangguan komunikasi, adalah anak yang mengalami hambatan dalam komunikasi verbal efektif, seperti terlambat berbicara, pemakaian bahasa di bawah usia, keganjilan dalam artikulasi, penggunaan bahasa yang aneh, gagap, intonasi/kualitas suara, penggunaan kata yang tidak tepat, ekspresi diri yang buruk, dan gangguan bicara secara menyeluruh.

15. Anak dengan potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa, adalah anak yang memiliki skor intelegensi yang tinggi (gifed) atau mereka yang unggul dalam bidang - bidang khusus (talented) seperti seni, olahraga, dan kepemimpinan.


Anak - anak tersebut memiliki hak dan berhak memperoleh penanganan sesuai dengan karakteristiknya. Perlu di kaji anak kita termasuk jenis yang mana. Kita perlu konsultasi kepada orang yang tahu betul tentang ini baik dari sisi kesehatan atau psikologis. Setelah kita tahu maka kita bisa antisipasi bagaimana kita mendidik anak tersebut.

Bahkan hak anak dilindungi oleh undang - undang. Pemerintah mengeluarkan kebijakan khusus terkait menangani anak. Silahkan baca : 

PERATURAN MENTERI NEGARA PEMBERDAYAAN PEREMPUAN DAN PERLINDUNGAN ANAK REPUBLIK INDONESIA NOMOR 10 TAHUN 2011 TENTANG KEBIJAKAN PENANGANAN ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Akhirnya, jahe susu yang kita minum habis bersamaan dengan obrolan kita. Teman saya akhirnya sedikit tenang dan akan menindaklanjuti terkait kondisi anaknya. 

So, semoga informasi tentang anak menjadikan kita tidak sembarang memberi stempel kepada anak. Dan kita semakin paham bagaimana kita menangani anak tersebut. Salam Sukses

Sumber : Peraturan menteri Negara Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak RI Nomor 10 Tahun 2011 Tentang Kebijakan Penanganan Anak Berkebutuhan Khusus

2 komentar:

Terima Kasih Sudah Berkunjung. Semoga hari Anda menyenangkan dan Sukses selalu. Tuhan Memberkati