Rabu, 09 Februari 2022

Mimpi Menulis Cerita Fiksi

S
ore ini, aku harus meninggalkan desa tercintaku untuk meraih mimpi di kota besar. Berat rasanya meninggalkan desa yang membesarkanku. Terlebih saat aku berangkat. Terlihat dari jendela Bus Ibuku menatapku dengan wajah sayunya. Buspun mulai berjalan dan kuterus tengok ibuku seakan masih terpaku berdiri memandangku hingga tak terlihat raut wajahnya. Akupun menghela nafas. Menatap pohon yang berjalan dan lama - lama aku pejamkan mataku.

" Ibu doakan anakmu ini semoga sukses kedepannya", kataku dalam hati.

Dengan bersandar kaca akupun perlahan - lahan terlelap.

"Oh.. Tuhan Kucinta Dia, Kusayang Dia, Inginkan Dia".

 Tiba - tiba kudengar suara merdu dari seorang gadis yang membangunkanku dari tidurku. Kuusap mataku ketengok ke samping terlihat gadis menggunakan topi ala sutradara, baju putih, dan celana jin.

Dengan terus bernyanyi, " Hanya padanya, untuk dia" Sambil menatapku dan mengedipkan mata tanpa peduli dia membangunkanku.

 " Juliet, namaku Juliet". Sambil mengulurkan tangan dengan senyum tanpa rasa bersalahnya mengajakku berkenalan. " Romeo namaku Romeo". kujabat tangannya sambil menatap penuh penasaran.

" Mau kemana Romeo?" Sambil merapikan tasnya tanpa melihatku. Lagi - lagi aku dibuat kaget dengan gadis ini.

 "Nah, ini dia!" Mengangkat sebuah buku berwarna kuning.

 "Apa itu?tanyaku karena penasaran". Juliet seakan tidak mendengar.

 "Apa itu?"tanyaku sekali lagi.Ya, memang dalam perjalan kami ditemani hujan lebat sehingga sedikit mengganggu pembicaraan kami. 

"Ohh, ini buku fiksi karanganku sendiri". Dipalingkannya bukunya kepadaku.

" Sang Pemimpi??" kataku sambil kulihat sampul judul itu. 

" Yes, Ini adalah buku pertamaku sejak aku lulus kuliah". Ternyata Juliet ini selain cantik, dia adalah seorang sarjana.

" Wahh, hebat sudah bisa menulis buku ya, kataku sambil tersenyum".

"Iya dong Romeo karena menulis adalah hobiku". Diapun menatatapku dengan lesung pipinya yang menawan.

" Mengapa harus buku Fiksi?"tanyaku sambil kupalingkan wajahku menghadapnya.

"Karena aku seorang guru" rupanya Juliet adalah seorang guru. 

"Kalau gurunya cantik begini aku bisa betah nih!"gumamku dalam hati.

"Romeo, Romeo, hallo!" Sambil tangannya dadadada persis di depan wajahku.

" Ehh, mengapa harus tulisan fiksi?Apa kaitannya dengan guru??". Aku gugup karena ketauan sedang memandang Juliet dengan tatapan penuh pesona.

" Pertama, dengan belajar menulis fiksi, tentu seorang guru akan lebih mudah membuat soal latihan Assesmen Kompetensi Minimum bagi murid - muridnya"

" Kedua, menulis fiksi merupakan cara asyik untuk menyembunyikan dan menyembuhkan luka. Dengan menulis fiksi, seorang guru bisa menyuarakan isi hatinya melalui tokoh - tokoh yang diciptakan". Julietpun dengan semangat menceritakan pengalamannya terkait menulis buku fiksi.

"Ketigacerita fiksi merupakan media pembelajaran alternatif yang menyenangkan bagi murid terutama menyangkut pengembangan karakter dan materi pengayaan". Cara bicara Juliet seakan menghipnotisku untuk terus mendengarkannya.

"Keempat,menulis fiksi bisa menjadi tambahan poin dan koin, terutama jika dikumpulkan menjadi sebuah buku".

Wahh, tanpa sadar akupun tepuk tangan mendengar ulasan dari Juliet.

" Emang apa saja syarat bisa menulis Fiksi??" Aku jadi semakin tertarik dan melanjutkan obrolan.

" Yang pasti itu harus komitmen dan niat untuk belajar menulis fiksi". Sambil menyodorkan aku kue yang dia bawa. " Ayo, sambil makan perjalanan masih jauh, kata Juliet". Belum sempat aku jawab sodoran kuenya.

"Trus apalagi Juliet?"

"Yang kedua, kemauan dan kemampuan melakukan riset. Lho, kok, cerita fiksi ada riset juga? Iya, dong. Tujuannya agar tulisan menjadi lebih nyata. Misalnya, menyangkut latar tempat."

"Ketiga, banyak membaca cerita fiksi karya penulis lain. Hal ini akan memperkaya kosa kata dan juga menemukan gaya menulis."

"Keempat,mempelajari KBBI dan PUEBI agar cerita yang ditulis sesuai kaidah kebahasaan dan Kelima memahami dasar-dasar menulis cerita fiksi." Semakin lama semakin dingin. Sambil mendengarkan cerita Juliet kutarik selimut yang ada di Bus. Hujan dan AC Bus membuat badanku semakin membeku.

" Juliet kamu gak kedinginan?" Aku tatap wajahnya seakan dia tidak merasa dingin.
"Ahh, udah biasa aku perjalanan begini. Jadi ya kebal aku" Kata Juliet sambil senyum kecil karena melihatku kedinginan.

" Emang, Unsur - unsur Pembangun Cerita Fiksi itu apa?" Kulanjutkan pertanyaanku sambil mendekap selimut karena kedinginan.

" Ada, tema yang merupakan ide pokok cerita. Kiat menemukan tema adalah yang paling dekat dengan kita. Bisa saja keluarga atau sekolah. Selain itu, pilih tema yang paling disukai dan kuasai. Hal ini akan memudahkan dalam menyelesaikan cerita."

" Ada,premis yang merupakan ringkasan cerita dalam satu kalimat. Unsur-unsurnya terdiri dari karakter, tujuan tokoh, halangan/rintangan, dan resolusi. Contoh: Seorang penyihir muda berjuang melawan penyihir jahat yang akan menguasai dunia. Contoh tersebut adalah premis dari novel Harry Potter."

" Ada, alur/plot yang merupakan struktur rangkaian kejadian dalam cerita. Terdiri dari pengenalan cerita, awal konflik, menuju konflik, konflik/klimaks, dan ending."

" Dan ...". Julietpun menghentikan pembicaraan karena ada telpn masuk di hpnya.
"Sebentar aku angkat dulu ya!" Dengan lembut meminta ijin kepadaku untuk mengangkat telpn terlebih dahulu. 

"Ok" Jawabku singkat sambil kuacungkan jempolku kepadanya.

" Baik Pak ... siap pak laksanakan". Dengan wajah semakin bersinar Juliet menjawab telpn tersebut.

" Romeo ... sampai mana tadi?" ditariknya lenganku karena aku sedang memandang hujan yang tak kunjung reda.

" Sampai alur dan plot" kataku sambil menengok ke arahnya.

" Nah, sebelum lanjut aku seneng sekali Penulis Idolaku meneleponku karena ingin kerja sama.Pak Sudomo namanya. Beliau penulis cerita fiksi terkenal. " Untuk pertama kalinya aku melihat seorang gadis cerita begitu semangatnya. 

" Wah, selamat ya semoga sukses". Kuangkat keduajempolku untuknya.

"Jadi, selanjutnya adalah  penokohan yang merupakan penjelasan selangkah demi selangkah detail karakter dalam cerita. Bisa digambarkan secara langsung, fisik dan perilaku tokoh, lingkungan, tata bahasa tokoh, dan penggambaran oleh tokoh lain."

"Kemudian, latar/setting yang merupakan penggambaran waktu, tempat, dan suasana. Dan terakhir adalah sudut pandang yang merupakan cara penulis menempatkan diri. Penggunaan sudut pandang dalam menulis cerita fiksi harus konsisten".

Tiba - tiba bus berhenti dan ternyata sudah sampai rumah makan. Akhirnya kitapun turun untuk makan malam dulu sebelum melanjutkan perjalanan.

Kamipun turun dari Bus. Selain untuk makan untuk merenggangkan kaki agar tidak pegel karena duduk terus.

" Romeo kamu makan??" Tanya Juliet sambil memegang teh manis hangat ditanganya.

" Tidak aku tidak terbiasa makan di sini jadi aku beli minum hangat saja seperti kamu." Sambil kutunjukan teh manis hangat yang aku minum. 

" Sambil cerita lagi ya ... ini yang paling penting bagi seorang penulis cerita fiksi". Juliet melanjutkan ceritanya sambil menyeruput teh hangatnya.

" Harus ada, niat untuk memulai dan menyelesaikan cerita fiksi. Permasalahan yang dihadapi oleh penulis adalah mengalami kebuntuan ide menyelesaikan tulisan fiksi."

" Perbanyak membaca cerita fiksi karya orang lain untuk menambah referensi berupa ide/gagasan/tema, teknik menulis, pemilihan kata, dan gaya penulisan."

" Pum Pum ..." Suara klakson Bus yang kita tumpangi berbunyi. Itu pertanda bahwa Bus akan segera jalan kembali. Kamipun kembali harus memotong pembicaraan dan masuk kembali ke Bus.
Di dalam bus kamipun bertukar tempat karena Juliet ingin bersandar dekat kaca untuk melanjutkan ceritanya.

Tanpa basa - basi Julietpun melanjutkan. " Terkait ide dan genre. Catat segera ide cerita yang terlintas di kepala agar ide tidak hilang begitu saja. Pilih genre yang disukai dan kuasai."

" Berikutnya outline/kerangka karangan,  Nah, untuk ini ada penjelasan lebih kamu harus baca buku Bapak Sudomo, S.Pt. Seorang penulis yang aku kagumi karena Ilmu yang aku dapatkan semua dari beliau." Kembali Juliet menunjukan sebuah buku karangan Bapak Sudomo.

" Jika kamu sudah menguasai semua Romeo.  Mulailah menulis dengan Membuka cerita dengan baik (dialog, kutipan, kata unik, konflik) . Setelah selesai menulisnya lakukan swasunting. Jadi memeriksa tulisan setelah selesai menulis.Jadi, deh bukunya" Sambil mengedipkan mata ditengah remang - remang lampu Bus.

"Luar biasa kamu Juliet. Semoga kamu sukses ya untuk menulis buku dan kerja sama dengan Bapak Sudomo". Sambil ku pegang pundaknya mendoakan.


" Dukk ... aduhhh kepalaku sakit". Rupanya aku tadi bermimpi dan ini terjatuh dari tempat tidur. Pantes saja aku jadi Romeo dan ketemu Juliet ternyata semua hanya mimpi. Sambil memegang kepalaku akupun kembali ke kasur dan melanjutkan tidurku. Sekian.



20 komentar:

  1. Oh Romeo..mimpi yg indah dan memberi inspirasi..apalgi yg memberi inspirasi seorang Juliet yg cantik..plus ada tokoh keren yg disebutkan yaitu Pak Sudomo ....😁

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe bisa saja Ibu terima kasih untuk atensinya

      Hapus
  2. Bagus, resume dalam balutan fiksi...
    Sukses terus Pak

    BalasHapus
  3. mantap, pembuka yang keren dalam balutan fiksi

    BalasHapus
  4. Ternyata bisa dibuat menjadi cerita ya? Enak bacanya...

    BalasHapus
  5. Lanjut terus dan semangat, mantap.

    BalasHapus

Terima Kasih Sudah Berkunjung. Semoga hari Anda menyenangkan dan Sukses selalu. Tuhan Memberkati